Fastabiqul Khairat, Tertinggal atau Ditinggalkan?
Dan
bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS. Al Baqarah:148).
Hidup
adalah fungsi dari waktu. Ia terus saja berjalan, tidak ada delay. Maka
tataplah jam yang melekat di dindingmu, adakah ia menunggu?
Ini
sebuah kisah tentang seorang lelaki surga yang tak mau menunggu, ia menjadi
yang terdepan dalam kebaikan. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam memaparkan profil penghuni surga tanpa azab dan hisab mulai
dari para nabi hingga Nabi Muhammad. Para
sahabat sudah mulai kasak-kusuk, menduga-duga, gusar, bagaimanakah gerangan
rupa istimewa tersebut?
Ketika
itu Nabi bertanya kepada para sahabatnya, “Apa yang kalian bicarakan?”, maka
setelah mereka memberitahukan, Sang Nabi pun bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang
tidak melakukan ruqyah, tidak meramal yang buruk-buruk dan kepada Rabbnya
mereka bertawakkal.”
Tiba-tiba
saja, seorang lelaki bangkit dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan
mereka”. Setelah itu, ada lagi lelaki yang bangkit, untuk kedua
kalinya dengan permintaan yang sama, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan
mereka”, Rasulullah menjawab, “Engkau sudah di dahului Ukasyah”.
Yah,
pemuda yang pertama kali bangkit adalah Ukasyah bin Mihsan. Ukasyah tidak perlu
menunggu untuk menjadi yang kedua. Karena keberaniannya pada kesempatan yang
pertama, permohonannya di ‘amini’ oleh Rasulullah. Seperti api yang
menyala-nyala, seperti itulah semangat Ukasyah yang hadir di awal, bukan di
akhir. Inilah sahabat Rasulullah, mereka memiliki satu budaya yang sudah lama
kita tinggalkan. Budaya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
“Mereka
itu bergegas segera dalam meraih kebaikan, Dan merekalah orang-orang yang
terdahulu memperolehnya," (Al.
Mu’minun : 61).
Ketika
turun ayat tentang hijab, tanpa membuang tempo, para shahabiyah langsung
mengambil kain-kain mereka dan melilitkan ke seluruh tubuhnya. Para shahabiyah yang berada di pasar-pasar lantas tidak
langsung pulang ke rumah. Mereka memilih untuk bersembunyi di balik batu-batu
besar, menunggu malam yang sepi barulah mereka pulang ke rumah. Lagi-lagi Ini
adalah bukti, bahwa sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang memiliki budaya
fastabiqul khairat, budaya tak mau menunggu dan selalu kompetisi dalam
ketaatan.
Faktanya,
kondisi kekinian dalam masyarakat kita berbeda, budaya kompetisi ini lebih di
gandrungi dalam ranah keduniaan. Kitapun Berlomba-lomba dalam memperkaya diri,
mempercantik rupa, menggagah-gagahkan sikap, mengejar jabatan, mencicil gelar
demi gelar dan menumpuk atribut-atribut keduniaan lainnya.
"Bukanlah kefaqiran yang sangat
aku khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khawatir jika
(kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya
kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti dimana yang pernah terjadi pada
orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa sebagaimana mereka juga
binasa karenanya,” (Bukhari dan Muslim).
Jikalaupun
kita memperoleh dunia, maka teruslah melangkah sebagai orang yang dititipi
amanah, berjalanlah sambil menunduk, indahkan titipan itu dengan keihklasan dan
niat pengabdian kepada umat.
Purwarupa Orang-Orang Pilihan
Fastabiqul
khairat adalah purwarupa orang-orang yang terpilih. Dalam surah Al-Fatir ayat
32, Allah menggambarkan purwarupa atau prototipe manusia menjadi tiga jenis.
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada
orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada
yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih
dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia
yang besar,” (Fatir : 32).
Jenis Pertama
adalah mereka yang zalim. Keburukan mereka lebih banyak daripada kebaikan yang
mereka ukir. Mereka menghabiskan usia pada perkara-perkara yang Allah tidak
ridai.
Jenis kedua
adalah mereka yang pertengahan. Dalam artian, disatu waktu mereka melakukan
keburukan tetapi di waktu lain merekapun melakukan kebaikan. Merekalah orang
yang ibadahnya jalan, keburukannya pun jalan.
Jenis ketiga
adalah mereka yang selalu membangun budaya fastabiqul khairat, berlomba-lomba
dalam ketaatan. Inilah karakteristik dari sahabat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam.
Karena
budaya fastabiqul khairat inilah para sahabat Nabi pantas dikatakan “khairu
ummah” atau generasi yang terbaik. Mereka tidak pernah melewatkan momentum
untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Tak rela melepaskan kesempatan untuk
mengisi setiap desahan nafas dalam ketaatan kepada Allah. Mereka selalu
memaksimalkan setiap pintu kebaikan yang Allah bukakan.
Sejenak
menengok purwarupa di atas, adakah kita menjadi manusia jenis ketiga?
Jawabannya tentu kembali kepada laku kita masing-masing.
Saatnya
kita merenung, alangkah berbedanya ghirah/semangat beribadah para sahabat
dengan kebanyakan dari kita sekarang. Seringkali kita tidak memiliki semangat
untuk ber-fastabiqul khairat- berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita seolah merasa
cukup dan baik-baik saja berada di luar arena, menjadi penonton atau bahkan
komentator, pengeritik perlombaan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain.
Ketika
orang lain mengenakan hijab secara sempurna, kita sering mengomentari mereka
“Terlalu ekstrimlah, kampunganlah” dan sebagainya. Ataupun di saat yang lain
bersedekah, kita berpikir mereka mungkin mencari muka atau ingin dibilang
pemurah. Ketika saudara kita menahan perkataan untuk mengamalkan sebuah hadis,
kita lantas menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang sombong yang pelit
perkataan. Dan di saat yang lain memanjangkan sujudnya, terbersit di hati,
mereka hanya ingin dikatakan khusyu’ saja.
Terkadang
kita memosisikan diri sebagai komentator dan kritikus tanpa terlibat dalam
perlombaan meraih rida Allah. Sebuah peran yang teramat melelahkan,
membuang-buang waktu. Adalah sebuah musibah jika kita kehilangan kesempatan
dalam ketaatan kepada Allah, lantas kita tenang-tenang saja Tak inginkankah
kita meraih syurga seperti ukasyah?
Maka Jangan hanya
jadi penonton, mari membangun budaya yang telah lama tertinggal. budaya
fastabiqul khairat. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar