Arsip Blog

Minggu, 21 September 2014

Sejarah Singkat Imam Malik

Sejarah Singkat Imam Malik



Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''

Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ''Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.'' Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi' bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma'mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja'far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja'far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja'far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.



Sumber: www.kotasantri.com

Rabu, 15 Agustus 2012


Fastabiqul Khairat, Tertinggal atau Ditinggalkan?



Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah:148).
Hidup adalah fungsi dari waktu. Ia terus saja berjalan, tidak ada delay. Maka tataplah jam yang melekat di dindingmu, adakah ia menunggu?
Ini sebuah kisah tentang seorang lelaki surga yang tak mau menunggu, ia menjadi yang terdepan dalam kebaikan. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memaparkan profil penghuni surga tanpa azab dan hisab mulai dari para nabi hingga Nabi Muhammad. Para sahabat sudah mulai kasak-kusuk, menduga-duga, gusar, bagaimanakah gerangan rupa istimewa tersebut?
Ketika itu Nabi bertanya kepada para sahabatnya, “Apa yang kalian bicarakan?”, maka setelah mereka memberitahukan, Sang Nabi pun bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah, tidak meramal yang buruk-buruk dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal.
Tiba-tiba saja, seorang lelaki bangkit dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka”. Setelah itu, ada lagi lelaki yang bangkit, untuk kedua kalinya dengan permintaan yang sama, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka”, Rasulullah menjawab, “Engkau sudah di dahului Ukasyah”.
Yah, pemuda yang pertama kali bangkit adalah Ukasyah bin Mihsan. Ukasyah tidak perlu menunggu untuk menjadi yang kedua. Karena keberaniannya pada kesempatan yang pertama, permohonannya di ‘amini’ oleh Rasulullah. Seperti api yang menyala-nyala, seperti itulah semangat Ukasyah yang hadir di awal, bukan di akhir. Inilah sahabat Rasulullah, mereka memiliki satu budaya yang sudah lama kita tinggalkan. Budaya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Mereka itu bergegas segera dalam meraih kebaikan, Dan merekalah orang-orang yang terdahulu memperolehnya," (Al. Mu’minun : 61).
Ketika turun ayat tentang hijab, tanpa membuang tempo, para shahabiyah langsung mengambil kain-kain mereka dan melilitkan ke seluruh tubuhnya. Para shahabiyah yang berada di pasar-pasar lantas tidak langsung pulang ke rumah. Mereka memilih untuk bersembunyi di balik batu-batu besar, menunggu malam yang sepi barulah mereka pulang ke rumah. Lagi-lagi Ini adalah bukti, bahwa sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang memiliki budaya fastabiqul khairat, budaya tak mau menunggu dan selalu kompetisi dalam ketaatan.
Faktanya, kondisi kekinian dalam masyarakat kita berbeda, budaya kompetisi ini lebih di gandrungi dalam ranah keduniaan. Kitapun Berlomba-lomba dalam memperkaya diri, mempercantik rupa, menggagah-gagahkan sikap, mengejar jabatan, mencicil gelar demi gelar dan menumpuk atribut-atribut keduniaan lainnya.
"Bukanlah kefaqiran yang sangat aku khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khawatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti dimana yang pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa sebagaimana mereka juga binasa karenanya,” (Bukhari dan Muslim).
Jikalaupun kita memperoleh dunia, maka teruslah melangkah sebagai orang yang dititipi amanah, berjalanlah sambil menunduk, indahkan titipan itu dengan keihklasan dan niat pengabdian kepada umat.
Purwarupa Orang-Orang Pilihan
Fastabiqul khairat adalah purwarupa orang-orang yang terpilih. Dalam surah Al-Fatir ayat 32, Allah menggambarkan purwarupa atau prototipe manusia menjadi tiga jenis.
Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar,” (Fatir : 32).
Jenis Pertama adalah mereka yang zalim. Keburukan mereka lebih banyak daripada kebaikan yang mereka ukir. Mereka menghabiskan usia pada perkara-perkara yang Allah tidak ridai.
Jenis kedua adalah mereka yang pertengahan. Dalam artian, disatu waktu mereka melakukan keburukan tetapi di waktu lain merekapun melakukan kebaikan. Merekalah orang yang ibadahnya jalan, keburukannya pun jalan.
Jenis ketiga adalah mereka yang selalu membangun budaya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam ketaatan. Inilah karakteristik dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Karena budaya fastabiqul khairat inilah para sahabat Nabi pantas dikatakan “khairu ummah” atau generasi yang terbaik. Mereka tidak pernah melewatkan momentum untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Tak rela melepaskan kesempatan untuk mengisi setiap desahan nafas dalam ketaatan kepada Allah. Mereka selalu memaksimalkan setiap pintu kebaikan yang Allah bukakan.
Sejenak menengok purwarupa di atas, adakah kita menjadi manusia jenis ketiga? Jawabannya tentu kembali kepada laku kita masing-masing.
Saatnya kita merenung, alangkah berbedanya ghirah/semangat beribadah para sahabat dengan kebanyakan dari kita sekarang. Seringkali kita tidak memiliki semangat untuk ber-fastabiqul khairat- berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita seolah merasa cukup dan baik-baik saja berada di luar arena, menjadi penonton atau bahkan komentator, pengeritik perlombaan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain.
Ketika orang lain mengenakan hijab secara sempurna, kita sering mengomentari mereka “Terlalu ekstrimlah, kampunganlah” dan sebagainya. Ataupun di saat yang lain bersedekah, kita berpikir mereka mungkin mencari muka atau ingin dibilang pemurah. Ketika saudara kita menahan perkataan untuk mengamalkan sebuah hadis, kita lantas menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang sombong yang pelit perkataan. Dan di saat yang lain memanjangkan sujudnya, terbersit di hati, mereka hanya ingin dikatakan khusyu’ saja.
Terkadang kita memosisikan diri sebagai komentator dan kritikus tanpa terlibat dalam perlombaan meraih rida Allah. Sebuah peran yang teramat melelahkan, membuang-buang waktu. Adalah sebuah musibah jika kita kehilangan kesempatan dalam ketaatan kepada Allah, lantas kita tenang-tenang saja Tak inginkankah kita meraih syurga seperti ukasyah?
Maka Jangan hanya jadi penonton, mari membangun budaya yang telah lama tertinggal. budaya fastabiqul khairat. Wallahu a’lam

Senin, 13 Agustus 2012


Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan, Fastabiqul khairat!!


Allah menciptakan dunia ini sebagai ujian bagi manusia. Terkadang dalam bentuk kesenangan dan di lain waktu dalam bentuk kesulitan. Demikian keadaan ini silih berganti. Tak kan selamanya kita senang dan tak kan selamanya kita sedih. Ingatlah sebuah pepatah “ kegagalan dan kesulitan hari ini bukan berarti kita akan sulit dan gagal untuk esok hari . Dan kemenangan atau kesenangan hari ini bukanlah berarti kemenangan atau kesenangan yang abadi selamanya .” Maka hadapilah dan nikmatilah keadaan ini sebagai bumbu kehidupan agar lebih berwarna dan lebih bermakna. Ibarat lukisan tak kan indah jika hanya satu warna yang ada. Demikian juga dengan kehidupan tak kan indah jika hanya kesulitan atau kesenangan yang mendominasi. Segalanya selalu berputar sesuai dengan irama kehidupan. Jika hari ini kita tertimpa musibah atau kesulitan yakinlah bahwa keadaan ini hanya sementara , akan ada waktunya kesenangan dan kebahagiaan menyapa, maka hadapi dengan kesabaran karena ini bukanlah siksaan namun sebagai penghapus atas segala dosa dan bentuk kasih sayang Allah untuk membentuk kematangan diri menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar. Jika hari ini kita ditimpa kesulitan ingatlah bahwa nikmat-Nya masih lebih banyak daripada kesulitan yang mendera. Dengan demikian akan melahirkan rasa tentram dan bahagia karena rasa syukur yang masih tersisa sehingga bukan hanya derita yang menyertainya. Jika hari ini kita ditimpa kesulitan yakinlah akan kasih sayang Allah bahwa Dia tidak akan membebani makhluk-Nya di luar batas kemampuan. “ Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” ( QS. Al-Mu’minun : 62 ).

Jumat, 10 Agustus 2012

1x24 Jam Harap Lapor, Ngebut Benjol!

 

 Dari ide bahasan tersebut pernahkah kita mencoba untuk mengontrol diri kita selama 24 jam penuh?. Perlukah kita menjaga diri kita sepenuhnya?, bisakah kita kehilangan kontrol?. Saya teringat seorang komandan tentara Jerman dalam sebuah pesta bertanya kepada Mr. Schindler dalam film schindler’s list, “mengapa kamu tidak pernah minum sampai mabuk ?”, lalu Mr. Schindler menjawab “control is power”.


Dalam Alquran surah Albaqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.


Karena itu perlulah kita menjaga diri kita dari musuh yang senantiasa mengganggu kita selama 24 jam non setop. Setiap detiknya dikarenakan mengalir dalam darah, Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Melawan musuh yang terlihat saja sudah sulit apalagi kita melawan musuh yang tidak nampak. Dinyatakan dalam Alquran, ”Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bias melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Qs. Al-A’rãf  ayat 27).


Seperti peribahasa “musuh dalam selimut”, sangatlah sulit. Apalagi ini musuh yang mengalir dalam darah dan senantiasa membisikkan kejahatan. “Yang membisikkan (kejahatan) kedalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia” (QS. An Naas, 114 : 5-6).


Oleh karena itu mari bersegera “lapor” memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dalam sehari Allah SWT membuat mekanisme laporan secara “unlimited” tanpa batas, bahkan tidak “melapor” pun dikarenakan kasih sayangnya seringkali Allah tetap menjaganya.

 Pertama; Shalat dalam sehari 5 kali, 17 raka’at. Sebagaimana ayat; “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan ) keji dan mungkar.  Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (QS. Al ‘Ankabut, 29 : 45). Dengan mekanisme shalat Insya Allah inilah setidaknya waktu-waktu untuk bermuhasabah atau mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dalammenjaga atau mengontrol amal perbuatan pada hari tersebut.

Kedua; perbanyak dzikir. Dzikir yang terambil dari kata Dzakaro dalam arti menghadirkan, dan dzikrullah dengan pemahaman selalu menghadirkan Allah; “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya” (QS. Al Ahzab, 33 : 41). Dengan sistem dzikir pengawasan terhadap dirisendiri yang direfleksikan dengan mengingat Allah menjadi sangat efektif dikarenakan berupaya terus mengingat Allah dalam setiap kesempatan.Ketiga; konsep ihsan. "Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu". (HR. Bukhari). Dengan ihsan Insya Allah apapun yang akan kita lakukan selalu sadar bahwa Allah mengetahui seluruh niat, amal perbuatan yang Nampak dan tersembunyi. “Seseorang tidak mungkin mencuri atau melakukan kejahatan, sedangkan ia beriman kepada Allah dalam arti menyadari kehadiran dan pengawasan-Nya”. (HR. Muslim)

Kembali kepada tema “1 x 24 jam harap lapor, ngebut benjol!” Agar keamanan dalam kehidupan kita sehari-hari stabil, terkontrol alias aman terkendali. Kita mestilah dalam sehari merasa kurang jika hanya 1 kali melapor.

Karena itu mari kita melapor kepada Allah lebih dari hanya 5 kali 1 hari, lebih dari 17 raka’at per hari, tetapi terus berdzikir mengingat Allah dalam setiap detiknya, dari setiap detak jantung kita, agar termasuk menjadi orang-orang yang ikhsan, agar fastabiqulkhairat, berlomba “ngebut” dalam kebaikan tetapi tetap waspada, terjaga, dan Insya Allah hindari “benjol”. Aamiin.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.